KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN
1.
Pengertian Kreativitas
Menurut Hurlock
(dalam Basuki,2010) mengemukakan bahwa Kreativitas adalah suatu proses yang
menghasilkan sesuatu yang baru, dalam bentuk suatu gagasan atau suatu objek
dalam suatu bentuk atau susunan yang baru.
Menurut (Jung 1961,
Clark 1986) Clark berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang spesialisasi
belahan otak,mengemukakan : “Kretivitas merupakan ekspresi tertinggi
keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua fungsi
dasar manusia yaitu : berfikir, merasa, menginderakan dan intuisi (basic
function of thingking, feelings, sensing and intuiting)”.
Menurut (Munandar dalam
Basuki, 2010) Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk
membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya dengan tujuan menikmati
kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian dalam Basuki,
2010). Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran,
kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfikir.
Menurut Rogers (dalam
Basuki, 2010) mendefinisikan Proses kreatif adalah munculnya dalam tindakan
suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu, dan dari pengalaman yang
menekankan pada produk yang baru, interaksi individu dengan lingkungannya atau kebudayaannya.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan ide baru
yang didasari oleh fleksibilitas dalam berpikir, intelegensi, dan gaya kognitif
yang mencerminkan kemampuan individu untuk mengolaborasi suatu gagasan yang
unik.
2.
Pengertian
Keberbakatan

Menurut Columbus
Group, mengemukakan Bakat adalah 'asynchronous development', yakni kemampuan
kognitif di atas rata-rata, mempunyai intensitas kuat yang dipadu dengan
pengalaman dan kesadaran diri yang secara kualitatif berbeda dengan orang
normal.
Menurut Clark (1986).
Keberbakatan adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa
sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.
Keberbakatan ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana
seseorang yang berbakat itu hidup.
Menurut Galton
(2002), Kebeberbakatan merupakan kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh
dari kombinasi sifat-sifat yang meliputi kapasitas intelektual, kemauan yang
kuat, dan unjuk kerja.
Menurut Renzulli
(1981). Bakat merupakan gabungan dari tiga unsur esensial yang sama pentingnya
dalam menentukan keberbakatan seseorang, yakni kecerdasan, kreativitas, dan
tanggungjawab.
Menurut Renzulli
(2002). Keberbakatan adalah interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik,
tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang
tinggi.
Menurut Tedjasaputra,
MS (2003), Keberbakatan adalah kondisi seseorang yang dengan suatu pendidikan
dan latihan memungkinkan mencapai kecakapan, pengetahuaan dan keterampilan
khusus.
Menurut Widodo
Judarwanto (2007), Keberbakatan adalah kemampuan intelektual atau kecerdasan
diantaranya meliputi kemampuan intelektual musik, matematika, fisika, kimia,
elektronika, informasi tehnologi, bahasa, olahraga dan berbagai tingkat
kecerdasan di berbagai bidang lainnya yang kemampuannya jauh di atas rata-rata
anak seusianya.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa keberbakatan adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang
melekat (inherent) dalam diri seseorang, merupakan bawaan sejak lahir dan
terkait dengan struktur otak.
3.
Hubungan Keberbakatan dan Kreativitas
Konsepsi
“ Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang
menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan)
keberbakatan ialah keterkaitan antara:
a. Kemampuan
umum di atas rata – rata
Salah
satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan
dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan
keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang
dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria
inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi
tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan
bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan
potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam
istilah “ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya
diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan
berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan
spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini
merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task –
commitment”.
b. Kreativitas
di atas rata – rata
Kelompok
(cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai
kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan
memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan
masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan – hubungan
baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
c. Pengikatan
diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)
Kelompok
karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif
ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang
mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun
mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton
meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “,
namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras
merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat
dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri
sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (
pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi,
menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat,
tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
A. PEMBELAJARAN
ANAK BERBAKAT
Anak
berbakat adalah anak yang oleh orang – orang profesional diidentifikasi sebagai
anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan –
kemampuan unggul. Anak-anak
tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/ atau pelayanan
di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan
mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri. Utami
Munandar (1982)
Ciri-ciri
Anak Berbakat
a. Intelektual/Belajar
Mudah
menangkap pelajaran, ingatan baik, pembendaharaan kata luas, penalaran tajam
(berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik,
menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca,
ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus
maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan
kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca
pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai
hal.
b.Kreativitas
Dorongan
ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak
gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat,
mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai
pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang
lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi
(tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya.
Dalam
pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan
anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan
mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
c.Motivasi
Tekun
menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti
sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak
memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan
yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas
dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang
dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan
sebagainya).
d.Pengamatan yang
Siaga dan Cermat
Seorang
anak memperhatikan apa yang berlansung dalam lingkungannya. Ia melakukannya
tidak saja dengan gerak – gerik, tetapi juga melalui pandangan mata.
e.Bahasa
Anak
berbicara lebih cepat dibandingkan dengan anak – anak sebayanya. Ia mampu
menggunakan kata – kata yang lebih sulit dan kalimat – kalimat yang lebih
majemuk.
f.Keterampilan
Motorik
Anak
dapat menanggapi atau benda dengan lebih tepat dan tidak cepat menjatuhkannya.
Ia dapat membuat bangunan dalam permainan balok atau kotak yang lebih sulit dan
menempatkannya dengan keseimbangan yang baik, misalnya pada pembuatan menara
tinggi. Selain itu, juga tampak dalam menggambar dan berolahraga.
g.Membaca
Sudah
dapat membaca sebelum masuk sekolah dasar, dan biasanya belajar sendiri. Ketika
masih bayi, tidak pernah memegang buku gambar terbalik. Gambar – gambar itu pun
sepertinya dibaca dari kiri ke kanan.
h.Matematika
Seperti
halnya membaca, keterampilan matematika dimulai dengan memahami konsep – konsep
yang mendasarinya. Anak cepat menunjukkan perhatian terhadap waktu, ukuran dan
hitung – menghitung. Anak banyak mengajukan pertanyaan tentang berapa lama,
berapa banyak dan pertanyaan – pertanyaan sejenisnya. Anak cepat mengingat hari
– hari ulang tahun, usia seseorang dan hal – hal yang berhubungan dengan angka.
i.Ingatan
Anak
mempunyai ikatan yang baik tentang pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh.
Anak ingin mengetahui sesuatu dan sering bertanya tentang hal – hal yang tidak
diperhatikan oleh orang lain.
j.Rasa Ingin Tahu dan
Keuletan
Dalam
hal – hal mengajukan pertanyaan, anak tidak sekedar bertanya mengenai siapa
atau apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana dan sebagainya. Untuk memperoleh
jawabannya, anak sangat gigih dan keras hati.k. Semangat
Mereka
biasanya menunjukkan semangat dan energi yang sangat besar. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika minat dan kegiatannya beragam hingga mengakibatkan
kurang tidur.
k.Persahabatan
Mereka
menyukai teman – teman yang lebih tua atau senang bersama orang dewasa.
B. Penerapan
Pembelajaran Anak Berbakat menurut Barbe & Renzulli
Implikasi
dalam pembelajaran anak berbakat disimpulkan oleh Barbed an Renzulli (Munandar,
1999: 62) sebagai berikut:
a.
Pertama-tama guru perlu memahami diri
sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang
dilakukan guru, tapi juga bagaimana guru melakukannya. Mustahil mengharapkan
seseorang dapat memahami kebutuhan, perasaan, dan perilaku orang lain, jika ia
tidak mengenal diri sendiri. Dalam menghadapi siswa-siswanya, guru yang baik
selalu menilai kemampuan, persepsi, motivasi, dan perasaan-perasaanya sendiri.
Guru perlu menyadari baik kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahannya. Anak
berbakat akan paling maju di bawah bimbingan guru yang memiliki kecerdasan
cukup tinggi, memiliki pengetahuan umum yang luas, serta menguasai mata
pelajaran yang diajarkannya secara cukup mendalam.
Jika
guru pada saat-saat tertentu tidak mengetahui sesuatu dan tidak dapat menjawab
pertanyaan siswanya, adalah lebih baik mengatakan “Saya tidak tahu: marilah
kita cari jawabannya bersama-sama!” atau “Berilah saya waktu untuk
memikirkannya!” Jawaban seperti ini akan lebih mendapat penghargaan dan
kepercayaan siswa daripada jika guru menjawab asal saja. Mengapa? Karena anak
berbakat bersifat kritis, mempunyai kemampuan penalaran yang tinggi, dan suka
mempertanyakan segala sesuatu.
Guru
perlu juga menguji perasaan-perasaannya terhadap anak berbakat. Sikap menguji
atau mempertanyakan dari anak berbakat dapat menjengkelkan guru yang bersifat
otoriter. Penjelasan guru yang biasanya diterima begitu saja oleh kebanyakan
anak mungkin diragukan oleh anak berbakat. Jika guru menunjukkan perasaan tidak
senang oleh pertanyaan-pertanyaan anak berbakat, ia dapat mematikan rasa ingin
tahu anak, sedangkan guru yang terbuka terhadap gagasan dan pengalaman baru
akan meluaskan dimensi minat anak.
b.
Di samping memahami diri sendiri, guru
guru perlu memiliki pengertian tentang keberbakatan.
Oleh
karena itu, guru yang akan membina anak berbakat perlu memperoleh
informasi dan pengalaman mengenai keberbakatan, tentang apa
yang diartikan tentang keberbakatan, bagaimana cirri-ciri anak berbakat, dan
dengan cara-cara apa saja kebutuhan pendidikan anak berbakat dapat terpenuhi.
Dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan pendidikan anak berbakat, guru akan
menyadari bahwa anak-anak ini memerlukan pelayanan pendidikan khusus yang
terletak di luar jangkauan kurikulum biasa./
c.
Setelah anak berbakat diidentifikasi,
guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan
yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
Sehubungan
dengan ini guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belajar
daripada sebagai instructor (pengajar) yang menentukan semuanya. Fungsi
pendidik adalah mempersiapkan siswa untuk belajar seumur hidup. Setiap anak
dilahirkan dengan rasa ingin tahu. Ia terbuka terhadap pengalaman baru dan
belajar dari pengalamannya sesuai dengan kebutuhannya. Hanya sayang, pada waktu
anak mulai masuk sekolah sering dorongan alamiah untuk belajar ini terkekang
karena kurikulum yang kaku dan program belajar yang tidak beragam
(berdiferensiasi), artinya tidak disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak. Jika
dorongan alamiah ini terhambat di sekolah, rasa ingin tahu anak akan mati dan
berganti menjadi sikap apatis, acuh tak acuh. Karena itu, diperlukanmotivasi
eksternal (berupa dorongan, pujian, teguran dari guru dan orang tua) dan system
penghargaan (nilai-nilai prestasi belajar, angka rapor) untuk menumbuhkan minat
anak. Terutama anak yang cerdas dan berbakat dengan rasa ingin tahu yang kuat
dan minat yang luas akan merasa terhambat dengan kurikulum yang hanya
berorientasi pada mayoritas anak.
d.
Guru anak berbakat lebih banyak
memberikan tantangan daripada tekanan.
Prakarsa
dan keuletan anak berbakat membuatnya tertarik terhadap tantangan. Ia senang
menguji kemampuan dan penglamannya terhadap tugas yang bermakna baginya. Ia
merasa tertantang untuk menjajaki hal yang sulit dan belum diketahui. Anak yang
berbakat dan kreatif cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dan yang hanya
mengulang-ulang.
e.
Guru anak berbakat tidak hanya
memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses
belajar.
Macam
kegiatan belajar yang lebih berorientasi kepada proses daripada terhadap produk
semata-mata dapat dilihat dari contoh-contoh berikut ini.
-Pemecahan
masalah dengan lebih menekankan pada proses memperoleh jawaban daripada
jawabannya sendiri.
-Membuat
klasifikasi (penggolongan).
-Membandingkan
dan mempertentangkan.
-Membuat
pertimbangan sesuai dengan criteria tertentu.
-Menggunakan
sumber-sumber (kamus, ensiklopedi, perpustakaan).
-Melakukan
proyek penelitian.
-Melakukan
diskusi.
-Membuat
perencanaan kegiatan.
-Mengevaluasi
pengalaman.
f. Guru
anak berbakat lebih baik memberikan umpan-balik daripada penilaian.
Agar
menjadi orang dewasa yang mandiri dan percaya pada diri sendiri, anak harus
belajar bagaimana menilai pengalaman dan prestasi belajarnya. Anak yang
berbakat cukup mampu melakukan penilaian diri sejak mereka masuk sekolah. Guru
perlu memberi umpan-balik dan model prilaku, namun seyogyanya anaklah yang
menilai diri sendiri. Guru dapat memberikan umpan-balik dengan membuat catatan
yang menyatakan dimana letak kesalahan anak dan bagaimana ia sendiri dapat
memperbaikinya. Jika nilai dalam bentuk angka harus diberikan, maka sebaiknya
dilengkapi dengan catatan penjelasan.
g. Guru anak berbakat harus
menyediakan beberapa alternatif strategi belajar.
Termasuk
salah satu hal penting yang perlu diketahui anak ialah bahwa ada lebih dari
satu cara untuk mencapai sasaran atau tujuan, ada macam-macam kemungkinan
jawaban terhadap satu masalah, ada beberapa cara untuk mengelompokkan objek,
dan ada beberapa sudut pandang dalam diskusi.
Hendaknya
anak diperbolehkan menjajaki beberapa cara atau jalan untuk mencapai tujuan.
Kreativitas akan berkembang dalam suasana yang memberika kebebasan untuk
menyelidiki. Jika anak tidak dengan sendirinya melihat macam-macam jalan yang
dapat ditempuh, hendaknya guru mengarahkan sehingga ia dapat melihat adanya
macam-macam alternative strategi belajar.
h. Guru
hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa percaya
diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam
menentukan pendapat dan keputusan.
Hendaknya
setiap anak merasa aman untuk mencoba cara-cara baru dan menjajaki
gagasan-gagasan baru di dalam kelas. Banyak anak yang kreatif terlambat dalam
ungkapan diri karena takut mendapat kritik, takut gagal, takut membuat
kesalahan, takut tidak disenangi guru, atau takut tidak memenuhi harapan orang
tua.
Dengan
menciptakan suasana di dalam kelas dimana setiap anak merasa dirinya diterima
dan dihargai, serta guru menunjukkan bahwa ia percaya akan kemampuan anak, maka
akan terpupuk rasa harga diri anak.
4.
Manfaat
yang diperoleh Mahasiswa
-Agar mahasiswa mengetahui konsep yang
berkaitan dengan bakat dan kreativitas.
-Agar mahasiswa mengetahui cara
mengidentifikasi bakat kreatif dan cara mengidentifikasi bidang-bidang bakat.
-Agar mahasiswa mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan bakat anak.
-Agar mahasiswa mengetahui konsep kurikulum
untuk mengembangkan bakat anak.
5.
Contoh
Kreativitas dan Bakat Masing-Masing
Kreativitas saya
adalah membuat suatu karya dari kertas namanya paper quiling, paper cutting.
Saya bisa melakukan itu semenjak saya menginjak bangku di SMP dan pada saat itu
saya mengikuti kegiatan disuatu tempat wadah social yang bernama HOME. Saya
bersyukur bisa mengenal wadah social tersebut dan saya dapat mengekpresikan
kreativitas saya.
Bakat saya adalah
mengajar dan bernyanyi. Saya mulai mengajar sejak kelas 2 SMA saat itu saya
tinggal di wadah social dan ditempat tersebut sedang membutuhkan tenaga
pengajar lalu saya menawarkan diri untuk dapat membantu adik-adik saya mengajar
dan akhirnya saya bisa semua itu butuh proses. Dan bakat saya bernyanyi
sebenarnya diwariskan dari Ibu saya karena sekeluarga saya hobinya nyanyi, dan
waktu saya masuk kuliah di Gunadarma saya mengambil UKM SWARADARMAGITA yaitu
UKM yang terkenal dikampus itu. Saya bersyukur bisa masuk ke dalam UKM tersebut
akan tetapi saya harus berhenti karena jadwal ngajar saya yang dapat di bimbel
tersebut.
References:
Munandar, Utami.2009. Pengembangan
Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : PT RINEKA CIPTA.
S.C.U. Munandar. (1992). Mengembangkan
Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia.1992.
Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, dkk.
(1982). Anak-Anak Berbakat Pembinaan dan Pendidikannya. Jakarta: CV. Rajawali.
Hasan, Maimunah. (2009). PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: DIVA Press.
http://www.kartunet.or.id/kurikulum-berdiferensiasi-untuk-anak-berbakat-1245/

Komentar
Posting Komentar